SIM Take Home Exam Triwulan III Hari Sukmara P05609046 2.33E

1.      Jawanban no. 1 (Apa yang membedakan pengembangan software dengan pengembangan sistem informasi? Jelaskan! )

Sistem Informasi dibangun untuk mendukung proses yang berjalan dalam sebuah organisasi, dimana didalamnya tercakup antara lain: proses perencanaan (Planning), pengorganisasian (Organizing) dan pengendalian (Controlling).  

Pengembangan Sitem Informasi akan bermula dasi PSI (Perencanaan Sistem Informasi), Analisa, Perancangan hingga Implmentasi.  Sedangkan Pengembangan Sistem Software bermula dari Anlisa, Perencanaan hingga Implementasi.

 

Pengembangan Sistem Informasi:

 

Pengembangan sistem informasi sering disebut sebagai proses pengembangan sistem (System Development). Pengembangan sistem didefinisikan sebagai aktivitas untuk menghasilkan sistem informasi berbasis komputer untuk menyelesaikan persoalan (problem) organisasi atau memanfaatkan kesempatan (opportunities) yang timbul. Pengembangan sistem informasi memerlukan keterilbatan komponen – komponen dari sistem informasi, yaitu:

  1. Sumber daya manusia
  2. Perangkat keras (Hardware)
  3. Perangkat lunak (Software)
  4. Jaringan komunikasi (Communication network)
  5. Prosedur dan kebijakan (Policy and Procedures)

 

Baik berdasarkan segitiga Pembangunan Sistem Informasi, maupun komponen – komponen sistem informasi, maka pengembangan perangkat lunak, merupakan bagian dari pengemgangan sistem informasi.  Oleh karena itu pengemgangan sistem perangkat lunak harus dalam koridor pengembagan sistem informasi, yang mana haru merujuk pada Perencanaan Sistem Informasi.

Pengembangan Sistem Software (Software Development) adalah pengembangan suatu produk software melalui suatu perencanaan dan proses yang terstruktur. Pengembangan software ini dapat ditujukan untuk berbagai kepentingan dimana pada umumnya dapat dibagi menjadi 3 , yiatu:

  1. Kebutuhan khusus bagi bisnis tertentu
  2. Kebutuhan yang diharapkan oleh pengguna potensial
  3. Keputuhan untuk kepentingan peribadi.

Pengembangan Perangkat Lunak meliputi:

  1. Proses perangkat lunak (software process)
  2. Metodologi perangkat lunak (software methodology).

 

  1. Proses perangkat lunak (software process)

 FUNGSI UTAMA

  1. Menentukan tahap-tahap yang diperlukan untuk pengembangan perangkat lunak.
  2. Menentukan urutan pelaksanaan dari tahap-tahap tersebut dalam rangka pengembangan perangkat lunak.
  3. Menentukan kriteria transisi/perpindahan dari satu tahap ke tahap berikutnya

 

  1. Metodology Perangkat lunak (software methodology) 

Bebarapa model yang sering digunakan dalam pengembangan software adalah:

–        Prototyping

Prototyping paradigma dimulai dengan pengumpulan kebutuhan. Pengembang dan pelanggan bertemu dan mendefinisikan obyektif keseluruhan dari software, mengidentifikasi segala kebutuhan yang diketahui, dan area garis besar dimana definisi lebih jauh merupakan keharusan kemudian dilakukan “perancangan kilat”. Perancangan kilat berfokus pada penyajian dari aspek – aspek software tersebut yang akan nampak bagi pelanggan atau pemakai (contohnya pendekatan input dan format output). Perancangan kilat membawa kepada konstruksi sebuah prototipe. Prototipe tersebut dievaluasi oleh pelanggan/pemakai dan dipakai untuk menyaring kebutuhan pengembangan software.

–          Waterfall

Model air terjun adalah proses pembangunan berurutan, dimana pembangunan dilihat sebagai terus mengalir ke bawah (seperti air terjun) melalui tahap analisis kebutuhan, desain, penerapan, pengujian (validasi), integrasi, dan pemeliharaan.

Prinsip dasar model air terjun adalah:

  • Proyek dibagi menjadi fase yang berurutan, dengan beberapa tumpang tindih dan splashback diterima antara fase.
  • Penekanan adalah pada perencanaan, jadwal waktu, tanggal target, anggaran dan pelaksanaan seluruh sistem pada satu waktu.
  • Kontrol ketat dijaga selama umur proyek melalui penggunaan dokumentasi tertulis yang luas, serta melalui review dan persetujuan formal / signoff oleh pengguna dan manajemen teknologi informasi yang terjadi pada akhir fase yang paling sebelum memulai tahap berikutnya. 

 

–          Iterative and Incremental Development

 

Digunakan untuk menjawab kelemahan yang terdapat dalam model air terjun. Model ini bermula dari suatu proses perencanaan dan berakhir pada proses penempatan (deployment), dimana terjadi interaksi didalamnya

–        Spiral (Boehm, 1988)

Model spiral (spiral model) adalah model proses software yang evolusioner yang merangkai sifat iteratif dari prototipe dengan cara kontrol dan aspek sistematis. Model ini berpotensi untuk pengembangan versi pertambahan software secara cepat. Di dalam model spiral, software dikembangkan di dalam suatu deretan pertambahan

Model spiral dibagi menjadi sejumlah aktifitas kerangka kerja, disebut juga wilayah tugas, di antara tiga sampai enam wilayah tugas, yaitu :

  1. Komunikasi Pelanggan

Tugas – tugas yang dibutuhkan untuk membangun komunikasi yang efektif di antara pengembangan dan pelanggan.

  1. Perencanaan

Tugas – tugas yang dibutuhkan untuk mendefinisikan sumber – sumber daya, ketepatan waktu, dan proyek informasi lain yang berhubungan.

  1. Analisis Risiko

Tugas – tugas yang dibutuhkan untuk menaksir risiko – risiko, baik manajemen maupun teknis.

  1. Perekayasaan

Tugas – tugas yang dibutuhkan untuk membangun satu atau lebih representasi dari aplikasi tersebut.

  1. Konstruksi dan peluncuran

Tugas – trugas yang dibutuhkan untuk mengkonstruksi, menguji, memasang (instal) dan memberikan pelayanan kepada pemakai (contohnya pelatihan dan dokumentasi).

  1. Evaluasi pelanggan

Tugas – tugas yang dibutuhkan untuk memperoleh umpan balik dari pelanggan dengan didasarkan pada evaluasi representasi software, yang dibuat selama masa perekayasaan, dan diimplementasikan selama masa pemasangan.

–        System Development Life Cycle (SDLC)

Kegiatan model ini meliputi:

  1. Perumusan masalah
  2. Pengembangan berbagai alternative solusi
  3. Pemilihan solusi terbaik
  4. Disain solusi terbaik
  5. Implementasi solusi terbaik
  6. 2.      Jawaban no. 2 (Seringkali terjadi suatu kesalahan besar yang berakibat fatal pada organisasi, ketika mereka melakukan pengalihan dari suatu sistem lama ke sistem yang baru. Jelaskan mengapa fenomena ini terjadi! Jelaskan pula berbagai cara dalam pengkoversian sistem, dengan berbagai asumsinya agar kesalahan tersebut tidak terjadi. Jelaskan !) 

 

Fenomena terjadi karena :

  1. Sistem yang dikembangkan tidak atau kurang sesuai dengan keinginan user, karena proses investigasi ,analisa  design  sistem yang dikembangkan kurang tajam. Penglaman sangat diperlukan serta   permasalahan yang tejadi dan keinginan dari user haruslah dipahami dengan baik oleh pengembang sistem. 
  2. Adanya perilaku yang  cenderung menolak atau sulit menerima setiap perubahan dalam organisasi perusahaan, khususnya yang sistem informasi  baru yang memerlukan peningkatan pengetahun dan keterampilan.
  3. Adanya kekhawatiran dari karyawan perusahaan apabila sistem informasi baru  (komputerisasi)  diimplementasikan akan terjadi ‘lay-off’ karyawan perusahaan.  (pengurangan pegawai)..
  4. Tidak dibarengi dengan  ‘business re-engineering process’, sehingga sistem komputerisasi kurang memberikan dampak effisiensi dan efektivitas yang maksimal bagi perusahaan.
  5. Perencanaan aktivitas implementasi tidak dipersiapkan secara comprehensive dan integrated yang  meliputi aktivitas :

a)      Hardware, software and services acquisition

b)      Software development  or modification

c)      End user training

d)      System documentation

e)      Conversion methode : pilot project,  paralllel cut-over, phase-in cut over, direct cut over (plunge).

Cara melakukan konversi sistem lama ke sistem baru baik agar kesalahan  tidak terjadi, yaitu sebagai berikut :

  1. Sistem yang dikembangkan harus  sesuai dengan kebutuhan dan keinginan user.
  2. User ditraining dengan baik (diberikan secara lengkap, terpadu, mudah difahami oleh end user dan harus menarik )
  3. Komputerisasi perlu dibarengi dengan ‘bussiens re-engineering process;, agar terjadi effisisiensi dan effektivitas operasi dalam perusahaan.
  4. Conversion methode harus ditetapkan sedemikan rupa dengan seksama sehingga tidak menyulitkan bagi user di lapangan. Sebagai contoh hindari proses palallel-run  yang terlalu lama, karena akan menyulitkan user (menguras energy serta biaya), dan kalau dimungkinkan menerapkan secara langsung ‘phase – in  methode’  atau tanpa melalui proses paralallel atau ‘plunge methode’  , dengan catatan system test dan user acceptance test dilakukan secara ketat.

 

Didalam suatu sistem (khususnya sistem informasi) hal-hal yang perlu diperhatikan  untuk melaksanakan konversi sistem adalah sbb :

  1. Infrastruktur  SI : Berupa satu set sistem hardware dan software. Apakah infrastrukturnya dapat diandalkan? Berapa biaya kalau harus diganti? Dll.
  2. Data :  Merupakan kumpulan data-data yang ada baik berupa data histori (backup data) maupun data yang sedang digunakan. Biasanya data-data diorganisasikan menjadi data yang bersifat master , data yang bersifat transaksional dan data-data pendukung (seperti table-table nama bulan, nama perusahaan, dll). Pendokumetasian akan sangat penting dalam hal ini.
  3. People : Orang-orang yang terlibat didalam sistem tersebut, seperti pengguna, operator, sistem administrator, dll. Mereka akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan konversi sistem.
  4. Prosedur : Merupakan tata cara kerja untuk mengatur orang-orang yang terlibat di sistem dalam menggunakan seluruh sumber daya sistem, sehingga dapat dicapai tujuan yang dikehendaki. Pendokumetasian akan sangat penting dalam hal ini.
  5. Features : Merupakan fasilitas-fasiltas yang diberikan oleh sistem kepada user, dapat berupa fasilitas dari operating system (backup facility, monitoring system statistic, dll) atau dari aplikasi (seperti didalam aplikasi perbankan fasilitas dapat menghitung pendapatan bunga, dapat melaksanakan pembatalan transaksi, dll).

 

Pada konversi sistem sering terjadi didalam pelaksanaanya tidak melihat seluruh aspek seperti tersebut diatas (partial view), sehingga menimbulkan beberapa masalah, bahkan sering pula terjadi akhirnya konversi gagal (balik ke sistem lama). Beberapa permasalahan yang umum terjadi biasanya berupa :

  • Infrastruktur SI :  
  •  
    1. Tidak melihat adanya kebutuhan baru (baik hardware maupun software) didalam sistem baru, seperti adanya kebutuhan hardware / software yang sebelumnya tidak ada, kebutuhan perubahan kapasitas hardware (hardisk, memori, processor, dll), dll.
    2. Tidak memeriksa kompabilitas sistem yang terpasang seperti versi operating system sudah tidak mendukung, protocol yang digunakan tidak match dengan sistem baru (berupa prosedur untuk hubungan antar subsistem dan message format yang digunakan), beberapa pheriperal (system printer, validasi printer, passbook printer, dll) tidak dapat digunakan (tidak compatible didalam interface fisik ataupun logic), dll.
    3. Tidak memperhatikan kebutuhan sistem sumber daya listrik seperti power plug dengan british type (kaki tiga) dulunya kaki 2, membutuhkan power plug dengan koneksi legrand, dulunya sistem membutuhkan single phase untuk yang baru membutuhkan 3 pahse, kapasitas daya yang terpasang tidak mencukupi, dll.
  • Data :
  1. Tidak melaksanakan analisa antara data yang lama dan yang baru (data maping) sehingga didalam konversi data banyak terjadi kesalahan atau kegagalan (tidak dapat dikonversi).
  2. Tidak melaksanakan pembersihan data lama (data clean up) dari data-data yang masih salah, tidak konsisten, tidak perlu ada, dll.
  3. Tidak membuat tool-tool untuk konversi data sehingga hampir seluruhnya dilaksanakan dengan cara manual, akibatnya prosesnya terlalu lama sehingga oleh user proses konversi ditolak (mengganggu operasi sehari-hari, biasanya ada batas  waktu sistem boleh down).
  • People : 
  1. Tidak memeriksa adanya kebutuhan SDM dengan kwalifikasi tertentu akibat adanya sistem yang baru sehingga didalam operasi sehari-hari masih sangat tergantung pada fihak luar.
  2. Tidak melaksanakan training dengan baik bagi para user, sehingga didalam mengoperasikan sistem baru para user mengalami kesulitan.
  3. Kurang didalam mensosialisasikan sistem baru, sehingga user enggan (terdapat reluktansi) didalam menggunakan sistem baru (biasanya orang perlu mempunyai alasan didalam benaknya untuk berpindah ke suatu sistem yang lain dari yang sudah ada).
  4. Terlalu banyaknya kebiasaan yang sudah terlanjur lama dilaksanakan tiba-tiba harus dirubah, hal ini biasanya menimbulkan keengganan bagi para user.
  5. Kurangnya komitmen dari manajemen, sebab walaupun sudah dilaksanakan sosialisasi dengan baik biasanya masih ada beberapa orang yang menolak kehadiran sistem baru, untuk itu didalam hal ini perlu adanya ketegasan dari fihak manajemen.
  • Prosedur :  
  1. Tidak memperhatikan adanya sistem baru menyebabkan terjadinya perubahan prosedur yang memerlukan adanya pos jabatan baru. Sementara didalam pelaksanaan konversi tidak dilaksanakan perubahan organisasi kerja.
  2. Kurang teliti didalam mempelajari prosedur baru sehingga sulit dilaksanakan dilapangan.
  3. Ada prosedur baku yang tidak dapat dihilangkan (baik karena alasan keamanan, adanya regulasi dari fihak eksaternal, dll), yang tidak di support oleh sistem baru.
  • Features : 
  1. Terlalu banyaknya perbedaan fasilitas-fasilitas yang diberikan oleh sistem maupun aplikasi baru dibandingkan sistem dan aplikasi lama. Hal ini khususnya dari titk pandang user apabila mereka sudah merasakan manfaat yang besar di fasilitas lama akan enggan menggunakan sistem baru atau mengangggap bahwa sistem baru kurang baik.
  2. Kadang-kadang belum tentu semua fasilitas di sistem baru akan lebih baik dari sistem lama, hal ini biasanya jadi titik lemah dari sistem tersebut sehingga sering kali hal ini dijadikan alasan untuk menolak adanya sistem baru tersebut.
  3. Tidak mampunya para pengembang sistem baru untuk membatasi ekspektasi dari user, sehingga permintaan-permintaan yang timbul tidak dapat diakomodasi.
  4. Fasilitas baru kurang fleksibel dalam mengakomodasi perubahan

 

Jawaban no. 4 (Apa urgensi maintainability suatu software? Jelaskan!)

Urgensi maintainability dari suatu software adalah: Biaya pemeliharaan perangkat lunak yang besar dari biaya pengembangannya, dikarenakan aktifitas perawatannya yang besar .

Biaya pemeliharaan tejadi untuk: Corrective (21%), adaptive (25%), preventive (4%) dan perfective (50%).

Biaya pemeliharaan merupakan 49% dari  total biaya rekayasa perangkat lunak. Sedangkan pengembangan (43%) dan lainnya (8%) dari biaya rekayasa.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.